Minggu, 18 Februari 2018

My First Love, My First Ex-Boyfriend.

"Rafi adalah sosok orang yang pernah berarti di hidupku, pacar pertamaku, sekaligus mantan pertamaku, lebih tepatnya alumni pertama di hatiku. Rafi adalah orang pertama yang mengajarkan aku apa arti cinta sesungguhnya, sekaligus orang pertama yang memberi luka amat perih di hatiku. He’s my first love also my first ex-boyfriend"
Tepat jam 16.30, di Tanggal 27 Desember 2014.
Rafi nembak aku pas lagi jalan berdua, di sepeda motor.
“Is, boleh ngomong sesuatu gak?”
“Iya Raf, ngomong aja”
“Jujur is, meski masih 2 hari aku kenal kamu. Aku ngerasa nyaman. Aku suka sama kamu. Aku tau di sekolah kamu adalah salah satu cewek cantik, pinter, dan anak osis pula. Gak ada apa-apanya dibandingin aku ini. Tapi apa pun itu, ini benar dari hatiku yang paling dalam. Aku sayang kamu, Is. Kamu mau gak jadi pacar aku?”.
Bumi berasa berhenti berputar. Jam dinding pun berasa berhenti berdetik. Beberapa menit berlalu, sampai akhirnya aku memantapkan hati,  dan aku reply dengan kalimat “You’re mine, Raf”.  Pada jam itu, menit itu, detik itu juga. Aku resmi jadian. Aku mengakhiri ke jomblo-an diri yang dari lahir, dan itu kali pertama aku punya pacar. Rafi adalah pacar pertamaku. Tahun demi tahun berlalu hingga anniversary 2 tahunku sama Rafi.
“Aku sayang banget sama kamu, sayang. Aku jadi orang baik-baik gak nakal lagi, semua itu karena kamu. Apapun yang terjadi tetap bareng ya. Kalau kamu sedih, inget! Ada aku yang bakalan temenin kamu terus. Jangan pernah menyerah. Kita hadepin sama-sama, I love you, Ais. I love you sayang:*”
“Aku juga sayang banget sama kamu, Rafi sayang. Selalu bareng sama aku ya. Jangan pernah berubah raf, tetep jadi Rafi yang sama seperti awal ais kenal rafi. I love you too Sayangku”
Hubunganku dengan Rafi selalu dalam keadaan baik-baik saja. Aku menjalani hubungan dengan Rafi layaknya pasangan muda-mudi diluar sana, dan sudah terhitung 2 tahun lebih, meski hanya 3 hari perkenalan yang kita lewati. Aku sayang banget sama Rafi, begitupun dia padaku. Sampai akhirnya, ada masalah di kehidupan Rafi. Ibu dia sakit berhari-hari, awalnya dia menyembunyikan semua nya dariku, dia memilih untuk memendamnya sendiri, dan hal itu semua membuat hidup dia berantakan.
Di sisi lain, Rafi bertemu dengan teman-teman baru yang membuat dia berubah. Rafi berubah menjadi orang yang paling tidak aku kenal.
“Raf, nanti sore bisa ikut aku ke toko buku gak?”
“Maaf ya, aku sibuk.”
“Sayang, besok jadi kan nganter aku les?”
“Maaf sayang, aku ada janji sama ibuk”
“Nanti malem ada acara gak sayang? Jalan yuk”
“Iya sayang, ada acara sama temen-temen, kapan-kapan aja ya”
Jujur, aku tidak tahu siapa dirinya yang sekarang, dia berubah menjadi sosok yang berbeda dari pertemuan awal kita. Yang aku temukan hanyalah segala perbedaan yang aneh darinya. Rafi tidak lagi semanis dulu, tidak lagi sehangat dulu, dan tak lagi semenyenangkan dulu.
Tepat tanggal 3 Januari 2017, Hari dimana segalanya berubah, hari dimana Rafi dengan mudahnya bilang kalimat yang sederhana namun sangat menusuk hati.
“Kita udah gak cocok, Is. Semua nya udah beda. Kita gak bisa bareng lagi, udah sampai sini aja ya. Maaf kalau ada salah selama ini.”
“KENAPA GITU? Aku salah apa raf ?”
“Kamu gak ada salah apa-apa. Aku cuman pengen ngerawat ibu. Ibuku sakit. Aku ingin ngebahagiain dia. Kamu juga bahagiain orang tuamu ya, buat mereka tersenyum dan bangga punya kamu.”
Air mataku langsung menetes pada menit itu juga setelah dia lanjut mengatakan :
"Gak perlu nangis is, sudah kamu fokus sama masa depanmu. Jalan kita masih panjang. Kalau memang jodoh juga pasti gak ketuker, kita tetep temenan".
Memang ini terkesan bodoh, setiap orang yang sedang bersedih dan patah hati pasti merasa bahwa dirinya sosok yang paling sedih sedunia. Dan aku merasakan itu semua. Perasaan ini membuat aku berantakan dan tak lagi punya daya untuk menata kembali hidupku.
Dua tahun lebih udah aku lewatin dengan Rafi.  Hari-hariku berwarna karena ada dia. Aku benar-benar benci hari itu. Disaat semuanya berubah, hilang tak berbekas.
Ada banyak kenangan yang tidak bisa cepat aku lupakan. Rafi telah menjadi bagian diriku dan sangat munafik jika aku mengaku tidak kehilangannya.
Aku selalu mencoba buat bisa bahagia tanpa dia, selalu memaksa diriku buat melupakan dia. Namun, semakin aku memaksakan diri terlihat baik-baik saja, semakin aku mendapati diriku yang tak lagi "bernyawa". Kita mulai berjalan sendiri-sendiri, dan segalanya berubah begitu singkat –sesingkat perkenalan kita. Aku kehilangan dirinya yang dulu. Sekarang, kita telah menjadi dua orang yang asing, yang seakan tak saling kenal dan menjalani hari seolah dulu kita tak punya perasaan apa-apa. Bukankah berpura-pura seakan semua tak pernah terjadi adalah hal yang paling menyakitkan untuk dilewati? Aku benar-benar kehilangan separuh diriku.

Surabaya, 18 Februari 2018














From : Aisy
To : Sweet27ku
Hai Rafi, Apa kabarmu hari ini? Aku selalu berharap kamu baik-baik saja.
Oiya, udah setahun lebih aku lewatin hari-hari ku tanpa kamu, Raf. Rasanya masih seneraka ketika kali pertama kamu bilang ingin mengakhiri semua. Hingga detik ini, aku masih belum bisa menerima kepergianmu yang tiba-tiba.  Jika waktu bisa diputar ulang, aku tentu akan menolak perkenalan yang kamu tawarkan. Jika tahu kamu yang mengakhiri hubungan ini, aku tentu tidak akan pernah berkata "iya" saat kamu menyatakan cinta di tanggal 27 desember 2014 lalu. Jika tahu akhir cerita kita akan sesedih ini, lebih baik aku tak pernah memulai semua. Setahun tanpamu, banyak kejadian yang terjadi dalam hidupku, Raf. Aku tidak membalas semua pesan dari pria yang lebih baik dibanding kamu hanya karena aku ketakutan menjalani hubungan yang nantinya akan berakhir seperti hubungan kita. Kamu tahu? berapa banyak pria yang berusaha masuk ke hatiku, tapi sekuat hati aku menutup diri karena dalam bayanganku masih kamu lah yang pantas bertempat disini. Selain itu, Jika aku pulang ke Sumenep melewati  jalan-jalan panjang yang pernah kita lalui dulu, aku selalu kembali teringat saat memelukmu erat di atas sepeda motormu, dan mendengarmu bercerita tentang apa pun. Betapa kebahagiaan bagiku begitu sederhana. Namun, jujur sekarang aku benci seluruh sudut kota itu, semua lampu merah yang kulewati. Aku benci setiap sudut jalan yang selalu membuatku mengingatmu, Raf.
Satu hal lagi, Raf. Aku kecewa padamu. Kamu janji, kita akan tetap jadi teman baik. Kita akan tetap seperti biasa meski sudah tak bersama. Kamu bilang, aku masih bisa dapat menghubungi mu kapan saja. Nyatanya apa raf? Kamu tak mau lagi membalas pesan singkat ku. Kamu tak mau lagi menghubungi ku. Itukah realisasi dari sebuah janji? Aku selalu senang disaat kamu hanya sekedar melihat snapgram IG ku meski kamu tak mau berhubungan lagi denganku. Aku senang melihat akun IG mu tertera disitu, karena itu berarti aku masih bisa merasakan akan hadirmu, meskipun aku tak tahu kabar mu. Aku tak tahu kamu dimana dan dengan siapa. Aku pun tak tahu siapa wanita beruntung yang sudah dapat menggantikan posisi ku di hatimu sekarang. Raf, boleh gak kalau aku sekarang merindukanmu? Tapi tenang saja, aku sadar diri. Aku bukan siapa-siapa lagi di hidupmu, kan.
Jadi, biarlah aku merindukanmu cukup dengan mengirim doa dari kejauhan karena aku percaya doa tidak pernah gagal untuk menyelamatkan.


Aisyia lahir di Sumenep pada 24 Maret 1999. Gadis berzodiak Aries ini sedang kuliah Pend.Apoteker di UNAIR. Aisy suka banget nulis kalau pas lagi hujan. Karena, Hujan sngebuat kenangan-kenangan yang dulu, kembali muncul di memori ingatannya. Apapun itu. Mantan pun didalamnya.